SALAM


ASSALAMU ALAIKUM WR. WB, TERIMA KASIH ANDA TELAH BERKUNJUG KE BLOG INI

Senin, 22 Maret 2010

SEMINAR DAN LOKAKARYA PRA MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE 46


Seminar dan lokakarya Pra Muktamar Muhammadiyah diadakan di Unismuh Makassar, berlangsung selama 2 hari yaitu mulai tanggal 26 s/d 27 Pebruari 2010 bertempat di Audotorium Unismuh Makassar. Acara ini sesungguhnya adalah program Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diamanahkan kepada Unismuh Makassar sebagai pelaksana. Acara ini dimaksudkan untuk menjarin masukan dari berbagai pihak termasuk dari luar Muhammadiyah sebagai bahan untuk diramu oleh tim stering comite yang akan di jadikan bahan di Mukhtamar Nanti yang akan berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 3 - 7 Juli 2010. Tema dari Semi loka ini adalah "

FORMAT PENGEMBANGAN SUMBERDAYA KADER DAN ANGGOTA MUHAMMADIYAH" .

Jumlah Peserta yang akan mengikuti seminar dan Lokakarya Pra Muktamar Muhammadiyah 46 adalah 157 orang dengan rincian sebagai berikut:

1. Penasehat PWM Sul-sel 2 orang

2. Anggota PWM Sulsel 13 orang

3. MPK PP Muhammadiyah (2 orang)

4. PP Aisyiyah (2 orang)

5. Majelis, Lembaga, Ortom Wilayah Sulsesl 17 orang

6. PWM Sulbar 2 orang

7. Ketua PDM dan Ketua MPK Muhammadiyah Se-Sulselbar 52 orang

8. Pimpinan PTM Se-Sulsel-Sulbar 16 orang

9. Internal Universitas Muhammadiyah Makassar 51 orang

Pemateri yang mengisi semiloka ini adalah:

1. Keynote Speech: Satu Abad Muhammadiyah: Tantangan Pengembangan Kader dan Anggota Oleh Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, M.A. (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

2. Penguatan Budaya Organisasi dan Militansi Kader Muhammadiyah

a. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. (PP Muhammadiyah)

b. Drs. H. M. Agus Syamsuddin, MM (MPK PP Muhammadiyah)

3. Pengembangan Empat Pilar Perkaderan di Muhammadiyah (Keluarga, Ortom, AUM dan Pimpinan Persyarikatan)

a. Prof. Dr. H. Zamroni (PP Muhammadiyah)

b. Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno (PP ‘Aisyiyah)

c. H. Asep Purnama Bahtiar, M.Si. (MPK PP Muhammadiyah);

4. Format dan Model Pembinaan Anggota Muhammadiyah

a. Dr. H. Muhadjir Effendi, M.AP. (Rektor UM Malang)

b. dr. H. Agus Sukaca, M.Kes. (Ketua PWM Kaltim)

c. Ir. H. Saiful Saleh, Msi (Wakil Ketua PWM Sulawesi Selatan)

5. Strategi Rekrutmen Anggota dan Simpatisan Muhammadiyah

a. Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum (PP Muhammadiyah)

b. Prof. Dr. H. Suyatno (Rektor Uhamka)

c. Dr. H. Agung Danarto (Ketua PWM DIY)

6. Strategi Transformasi Kader Muhammadiyah dalam persyarikatan, keumatan, dan kebangsaan.

a. Prof. Dr. H. Yahya Muhaimin (Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah)

b. Drs. H. Marpuji Ali, MA (Ketua PWM Jawa Tengah)

c. M. Busyro Muqoddas, SH., M.Hum. (Ketua Komisi Yudisial)

Tim/Panitia ditunjuk dan ditetapkan oleh Rektor Unismuh Makassar terdiri:

Penanggungjawab : Rektor Unismuh Makassar

Koordinator : Pembantu Rektor IV

Ketua : Dahlan Lama Bawa, S.Ag, M.Ag

Sekretaris : Ir. Nurdin Mappa

Anggota : 1. Mustaqim Muhallim, S.Ag (Tamu-PP)

2. Drs. Sultan Sarda, M.Si (Tamu-PP)

3. Drs.H.M.Ali Hakka (Semiloka)

4. Drs. Hambali, M.Hum (Semiloka)

5. Drs.Muh.Tahir, M.Si (Semiloka)

6. Drs.Markas Iskandar, M.Pd.I (Semiloka)

7. Abd.Rahman, S.Ag (Undangan & Peserta)

8. Alimuddin, S.Ag, M.Ag (Undangan & Peserta)

9. Nasruddin, ST (Perlengkapan)

10.Muri Khaliq, S.Ag, M.Pd.I (Perlengkapan)

Catatan : Dibantu oleh Tim Teknis 8 orang



Baitul Arqam Angkatan I untuk Pimpinan , Dosen dan Karyawan Unismuh Makassar



Universitas Muhammadiyah adalah milik persyarikatan Muhammadiyah, untuk itu harus dikelola sesuai dengan maunya pemiliknya, untuk mengelola sesuai dengan maunya Muhammadiyah ,maka pengelolanya harus tahu Muhammadiyah hal inilah yang mendasari sehingga Baitul Arqam dilakukan selama dua hari yaitu mulai sabtu – ahad tanggal 20 -21 Maret 2010. Sasaran pesertanya adalah Pimpinan dan dosen Unismuh dalam hal ini mulai dari rector, pembantu rector, Dekan dan para pembantu dekan ditambah dengan karyawan yang baru masuk ke Unismuh. Dalam Acara ini sebagai penyelenggara adalah Unsimuh Makassar, difasilitasi oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sul-sel. Pada acara pembukaan disambut oleh Rektor Unismuh Makassar dan pengurus BPH dalam hal ini ketua BPH Unismuh Makassar, Ir. H. Syaiful Saleh, Msi sekaligus membuka acara Baitul Arqam.

Para Pembicara yang tampil adalah :

- KH. Jamaluddin Amin, sebagai sesepuh Muhammadiyah dan mantan ketua BPH Unismuh tanpil membawakan materi pertama dengan judul : Nilai-nilai Islam dan inplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai Islam menurut KH jamaluddin Amin, kalau menurut Al-Qur’an ada dua yaitu iman dan amal saleh, menurut Jibril ada 3 yaitu Iman, Islam dan Ihsan, sedangkan menurut Muhammadiyah ada empat nilai Islam yalitu Aqidah, Ibadah, Akhlak dan mua’malah, sedangkan menurut ulama sekarang nilai Islam ada dua yaitu Aqidah dan syaria’h.

Dalam penyampaiannya beliau menyampaikan nilai-nilai Islam antara lain : iman, takwa, ihsan, musyawarah, adil, ihlas, Ukhuwah, dermawan, dan terakkhir menahan nafsu.

- Pembicara kedua adalah, Drs. KH. M. Alwi, M.Ag. membawakan materi dengan judul , Penguatan idiologi Muhammadiyah

- Pembicara ketiga adalah Prof.Dr. Arifuddin Ahmad membawakan materi jamaah dan dakwah jamaah.

- Pembicara ke empat adalah Drs. KH. Jalaluddin Sanusi membawakan materi Ibadah yaitu Wudhu, mandi, tayammum dan Shalat sesuai dengan tarjih Muhammadiyah.

- Pembicar yang tampil selanjutnya adalah prof.Dr. Qadir Gassing, dan KH Nasaruddin Razak.

Acara Baitul Arqam ini ditutup kembali oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, yang dihadiri kembali oleh Rektor, ketua BPH Unismuh Makassar. Semoga Baitul Arqam ini membuahkan kesadaran dalam bermuhammadiyah dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan Alqur’an dan Hadits.

OUTO KRITIK TERHADAP ORANG MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah adalah organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, padan tanggal 8 Zulhijja 1330 H, atau bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912 M. Berawal dari keprihatinan beliau terhadap keadaan ummat Islam yang sangat terbelakang ditambah lagi dengan pemahaman ummat Islam yang sangat miring terhadap agamanya terutama dalam aqidah dan ibadah yang sangat menyimpang dari sumber aslinya yaitu Al-qur’an dan sunnah , sehingga menyuburkan praktek TBC, tahyul, bid’ah dan Churafat, ditambah lagi dengan progresifnya ummat lain dan menyebarkan agamanya bahkan cendrung memurtadkan ummat Islam dari Agamanya, dan dimotori oleh penjajah dan yang terpenting adalah kesadaran KH. Ahmad Dahlan terhadap perintah Allah supaya ada sekelompok ummat yang menjadi penyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, Al-Qur’an surah Ali-Imran :104

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dengan Dasar ini maka Muhammadiyah kemudian di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai jawaban terhadap kegalauan beliau terhadap persoalan yang dihadapi oleh Ummat.

Sejak lahirnya Muhammadiyah memiliki obyek garapan ummat terutama ummat terbelakang atau masyarakat pinggiran (grass root) akar rumput. Sehingga berdirilah rumah-rumah sakit, panti-panti asuhan dimana-mana , sampai sekarang sudah luar biasa, .

Artinya Muhammadiyah lahir karena keprihatinan terhadap ummat terutama ummat yang lemah dan terbelakang, Hal ini sudah mulai bergeser sedikit-demi sedikit, setelah Muhammadiyah dipimpin oleh para cendekiawan atau kelompok ummat menengah ke atas atau kalangan cendekiawan, bahkan dalam setiap ungkapan-ungkapan, baik dalam ceramah –ceramah, diskusi-diskusi, seminar-seminar dan majalah-majalah sering muncul istilah-istilah yang sudah tidak dapat lagi dicerna oleh kelompok-kelompok masyarakat kecil (grass root) hal ini semakin mengokohkan bahwa muhammadiyah hanya dimiliki oleh sekelompok masyarakat cendekiawan, dan tidak lagi menyentuh masyarkat kecil yang jauh dari istilah-istilah yang tidak mereka pahami, lain dengan jaman-jamannya para pendahulu seperti KH. Ahmad Dahlan, sutan Mansyur, ki bagus, Pak Ar, yang bahasanya sangat sederhana dan sangat dekat dengan bahasa-bahasa masyarakat biasa sehingga apa yang mereka sampaikan dengan muda sekali dapat dicerna oleh ummat yang sederhana.

Kekurangan yang sangat mendasar yang lain, adalah jauhnya orang-orang Muhammadiyah dari Al-qur’an dan Hadits, padahal sudah menjadi motto Muhammadiyah yaitu kembali kepada Al-qur’an dan Hadits yang shahi. Kekurangan ini sangat dirasakan mulai dari tingkat Pimpinan paling atas sampai pimpinan tingkat ranting, bahkan anggota persyarikatan. Tidak banyak lagi kelompok-kelompok kajian yang memang betul-betul mengaji langsung dengan menggunakan Al-qur’an dan Hadits sebagai sumber kajian. Secara personal mana ada waktu dari kita membaca Al-qur’an dengan rutin,, jika dibanding dengan bacaan lain, bahkan mungkin lebih banyak waktu kita membaca Koran. Sekarang mana tempat-tempat tertentu yang digunakan oleh pimpinan untuk berkumpul mengkaji langsung AL-qur’an dan Hadits, sepertinya kembali kepada Al-qur’an dan Hadits tinggal selogan.

Kekuranga mendasar yang lain adalah banyak orang –orang Muhammadiyah yang tidak memiliki tarjih, padahal ketika mereka berbicara ibadah selalu tekankan, beribadah menurut tarjih, sehingga waktu untuk membaca tarjih juga tidak ada bahkan mungkin ada anggota Muhammadiyah yang tidak pernah memegang tarjih.

Selanjutnya kita orang-orang Muhammadiyah tidak ada greget untuk mencoba menguasai sumber informasi, bisa dibayangkan bagaimana hebatnya Muhammadiyah ketika ia memiliki sumber informasi seperti Televisi tingkat nasional yang dapat diakses diseluruh dunia atau Indonesia. Kalau ini mau diwujudkan saya kira bisa katanya warga Muhammadiyah ada sekitar 30 juta, kalau ini dapat digerakkan secara ekonomi, bisa dibayangkan betapa kuat muhammadiyah dapat mengumpulkan dana yang luar biasa untuk mendanai pembangunan sarana informasi ini.